<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>saat jeda menuju cahaya</title>
	<atom:link href="http://kelilipan.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://kelilipan.wordpress.com</link>
	<description>habis kelilipan terbitlah terang</description>
	<lastBuildDate>Sun, 03 Apr 2011 14:05:25 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='kelilipan.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://1.gravatar.com/blavatar/91d74adfbfb9cec77405a5c255895d05?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>saat jeda menuju cahaya</title>
		<link>http://kelilipan.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://kelilipan.wordpress.com/osd.xml" title="saat jeda menuju cahaya" />
	<atom:link rel='hub' href='http://kelilipan.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Argopuro</title>
		<link>http://kelilipan.wordpress.com/2009/05/23/argopuro/</link>
		<comments>http://kelilipan.wordpress.com/2009/05/23/argopuro/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 23 May 2009 02:40:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kelilipan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catper]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kelilipan.wordpress.com/?p=46</guid>
		<description><![CDATA[Sabtu dini hari aku habiskan dengan kegiatan browsing2 sampai Shubuh. Setelah shalat baru aku tidur n baru terbangun jam 12.30. Seperti biasa, bangun tidur ku terus ngecek sms. Ada sms dari susan oanc (aku masih belom tau kalo ternyata susan nggak aktif di kaskus, setau aku yang berangkat argopuro tuh anak kaskus semua) isinya “Eh [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kelilipan.wordpress.com&amp;blog=6822633&amp;post=46&amp;subd=kelilipan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sabtu dini hari aku habiskan dengan kegiatan browsing2 sampai Shubuh. Setelah shalat baru aku tidur n baru terbangun jam 12.30.  Seperti biasa, bangun tidur ku terus ngecek sms. Ada sms dari susan oanc (aku masih belom tau kalo ternyata susan nggak aktif di kaskus, setau aku yang berangkat argopuro tuh anak kaskus semua) isinya “Eh mas rian, anak-anak Jakarta udah pada di rumah susan, nanti kita berangkatnya barengan aja yah !”  Busyet,….aku baca sms jam segini, jangan-jangan yang lain udah pada cabut dari Surabaya. Dengan sedikit panik, aku balas dengan nanya jam keberangkatan dari terminal nya jam berapa. <span id="more-46"></span>Setau aku janjinya kita ngumpul tanggal 12 di Probolinggo. Ini kan baru tanggal 11. Backpack pinjeman masih tertidur gagah di jemuran, sisa logistik pendakian sebelumnya tersusun rapi di toko (aku buka toko komputer n jaraknya lima menit dari rumah aku). Jaket bekas yang aku beli di pasar Sambu, Medan masih terlalu dekil dan berbau “arjuno”. Wah nggak bisa dipakai nih, padahal niatnya tu jaket mau aku laundry n diambil nanti malam. Telepon masuk “kita berangkat jam 17.00 atau 17.30, kalo macet dari Sidotopo ke Terminal Bungurnya” kata Susan  Artinya aku masih punya beberapa jam untuk persiapan. Dengan terburu-buru aku packing dan dengan sedikit rasa menyesal kuambil 2 kaleng sarden ukuran besar lalu kugabungkan dengan peralatan yang lain. Sisa waktu kuhabiskan dengan belanja coklat ala kadarnya. Niatan untuk beli egg case kuurungkan, soalnya nggak sempat lagi singgah ke Ace Hardware Royal Plaza. Udah gitu, baru semenitan dari rumah, hp ku jatuh ditengah jalan. Untung nggak rusak, cuma lecet berat.</p>
<p>Sesampainya di terminal kulihat jam tepat 17.00 artinya masih belum “telat” untuk ukuran Indonesia, masi sempat makan bakpau chik yen sebentar. Soalnya aku belum makan apa-apa dari pagi.   Masuk terminal, aku menunggu gerombolan ber backpack besar yang datang. Setelah agak bosan dan jam hampir menunjukkan 17.30 aku sms susan tuk bilang kalo aku ganti no ke GSM, n beberapa menit kemudian Susan nelpon n bilang “mas rian langsung aja naik bis jurusan probolinggo, kita udah sampai daerah pasuruan nih” Aku menghela nafas panjang, ngapain dari tadi celingak-celinguk di terminal !. Udah dua pertanda nggak baik muncul hari ini. Hp jatuh n ditinggal rombongan.  Alah biarin,…Aku nggak ngerasa perlu untuk menanyakan kenapa aku ditinggal rombongan, toh aku orang baru dalam kelompok ini. Udah dapat teman jalan ke Argopuro aja syukur. Nggak banyak pendaki yang langsung mau diajak ke gunung dengan track terpanjang di Jawa ini. Egoku mengatakan kalo tujuanku untuk berhasil sampai di puncak lebih penting daripada perasaanku. Tapi sebagai kelompok, kita kan nggak “naik bareng n turun bareng” Apa perjalanan ke Mahameru kemarin bakal terulang ?</p>
<p>Saat itu aku yang menjadi pimpinan kelompok. Kelompok kami hanya terdiri dari tiga orang dan kita semuanya tinggal serumah. Sebelum naik sudah kutegaskan tentang pentingnya kelengkapan alat-alat. Soalnya buat mereka, Mahameru adalah gunung pertama mereka dan perlengkapan masih nol. Soal fisik sih aku tidak khawatir. Semuanya sehat dan tipe pekerja keras. Tapi soal mental dan sikap, aku nggak tahu. Yang jelas mereka semua adalah tipe orang yang sangat menyenangkan sebagai teman sekontrakan. Peralatan kita lengkap tapi sangat sederhana, aku sangat beruntung ternyata semua rekan mau menuruti anjuran logistik dan air yang dibawa. Namun karena suatu hal, kita baru sampai di RanuPane Jum’at sore. Artinya, nggak mungkin 3 newbie jalan malam dan kita harus camp di Ranu Pane.</p>
<p>Kita start pagi dari Ranu Pane, makan siang di Ranu Kumbolo dengan kompor gas yang ternyata sering macet. Salah satu temanku menolak untuk makan banyak dengan alasan nggak mau BAB di gunung. Ini adalah salah satu hal yang kubenci, karena kesiapan stamina dan tenaganya berpengaruh pada pendakian ini. Untung saja dia meminum tablet high protein yang biasa dikonsumsi orang yang senang fitness. Lumayan pikirku. Aku nggak jadi mempermasalahkan hal ini. Perjalanan kita lanjutkan ke Kalimati dan kita tiba di Kalimati menjelang maghrib. Aku membuat kesalahan fatal karena menganggap remeh medan dengan tidak memakai sepatu di perjalanan trip ke dua ini. Tumitku infeksi dan bernanah. Aku jadi sulit melangkah. Apalagi tenagaku terkuras karena beban backpack yang sangat berat soalnya backpack teman-temanku ku nggak ada yang ber internal frame.  Aku pikir kami sudah setuju untuk camp di Kali Mati, ternyata salah satu rekanku mengejar wawancara kerja di hari Senin dan memaksa untuk muncak malam ini juga. Dengan stamina habis dan kaki terluka aku ikuti ajakan mereka untuk terus ke arcopodo. Namun beban kami kurangi dengan menitipkan sebagian isi backpack kecuali air ke teman pendaki asal Surabaya yang baru akan muncak besok.</p>
<p>Akhirnya tiba juga di Arcopodo. Akal sehatku mengatakan aku nggak bisa ikut muncak malam ini dengan tenaga dan kondisi kaki kaki seperti ini. Aku menuruti akal sehatku dan tetap di tenda. Sebelumnya kutegaskan kalau aku nggak mampu bertanggung jawab lagi dengan keselamatan perjalanan mereka. Akhirnya, mereka gagal muncak karena 10 meter menjelang puncak tiba-tiba ada badai dan dengan harap-harap cemas akhirnya mereka turun dalam keadaan selamat namun compang-camping. Lalu setelah istirahat kita turun ke Ranu Kumbolo. Tengah hari setibanya di danau aku memaksa untuk ngecamp, namun salah satu temanku memutuskan tetap turun ke Tumpang. Akhirnya dia memang sampai Tumpang malam itu namun terpaksa mabit (bermalam) di Masjid karena kehabisan angkot ke Arjosari Malang. Hal ini sangat aku sesalkan. Kita naik bareng tapi nggak turun bareng. Nggak masalah kalau di perjalanan mereka mendahuluiku, tapi start nggak bareng dari setiap pos nggak dapat kuterima. Ini transaksi yang negatif dalam sejarah pertemanan kami. Tapi bisa kumaklumi karena aku tahu ini gunung pertamanya dan saat itu aku yang terluka dan aku tahu kalo aku akan baik-baik saja. Aku mungkin lebih tidak bisa menerima kalo yang sakit temanku yang satunya. Btw temanku berhasil wawancara kerja tepat waktu tapi nggak diterima kerja.  Aku kembali berpikir, mungkin sebaiknya aku membatalkan keberangkatan ke Argopuro. selain karena kelompokku nggak jelas gara-gara banyak yang gagal berangkat, berangkat nggak bareng dari terminal menurutku bukan tanda teamwork yang baik. Tapi nggak seperti di arcopodo Mahameru, egoku yang menang. Egoku berkata “kan janjinya di email kita berangkat dari Probolinggo tanggal 12” “anggap aja peristiwa ini nggak ada” “Kapan lagi ke Argopuro ?” “Kan susah nyari teman bareng” “kan bawa tenda sendiri, apa susahnya tinggal bikin kelompok baru beranggotakan satu orang” “namanya anak baru, tau diri sedikit lah” dan berbagai kata-kata lain. Dasar koleris, aku memutuskan terus. Sejelek-jeleknya ditinggal, kalo dengan perlengkapan lengkap aku bisa nyusul sendiri, soal rute ntar bisa nanya ama warga setempat, atau nebeng pendaki lain. Nekad….. perasaan dan akal sehat dibuang jauh-jauh.   Untungnya teman-teman mau menunggu.</p>
<p>Sampai di terminal BayuAngga, aku kembali celingak-celinguk mencari gerombolan si berat  , nggak kelihatan…. Isi pulsa dulu ah. Ntar bisa sms nanya teman-teman nunggu dimana. Waktu lagi ngisi pulsa, Susan nelp n bilang kalo dia ada dibelakangku. Akhirnya kuhampiri teman-teman yang sudah dengan sukses membuka lapak di trotoar terminal dengan flysheet dan termos berisi teh dan kopi hangat. Aku berkenalan,…. Selain Susan yang sudah kulihat di Friendster, yang lain adalah wajah baru bagiku. Sebelumnya ada team Argopuro yang kuundang untuk menginap di kontrakanku sebelum ke Probolinggo. Dan janjinya yang cowok di aku yang cewek di Susan. Tapi sampai hari itu nggak ada yang sms, email atau langsung datang. Agak gondok juga dicuekin. Tapi biar aja lah, toh sekarang sudah kenalan.  Kata orang, yang dibutuhkan di pendakian adalah mental, sikap, teamwork dan peralatan. Aku nggak enak ngomong masalah mental, sikap apalagi team work dengan teman-teman yang baru kenal. Ntar dipikir sok tau atau masih gondok karena ditinggalin. Jadinya selain basa-basi ya ngomong masalah peralatan. Mataku silau dengan kelengkapan team ini. Banyak sekali barang-barang yang nggak bisa didapatkan di Surabaya. Apalagi di email Susan sempat nulis Osprey, Leatherman dan Petzl. Aku yang kampungan taunya cuma eiger dengan alpina Hahahahaaaa. Apalagi ngeliat Boim. Ampun bang, Ampun, Ampun…… harap-harap cemas nunggu bekasnya….hihihihi  Di menit-menit pertamaku, aku kembali berdekatan dengan dua hal yang sudah lama kutinggalkan. Musik dan perempuan. Godaannya gede lagi. Musiknya Katon Bagaskara dan perempuannya banyak. Jadi nostalgia lagi dengan lagu-lagunya Katon…..  Kalo dengan perempuan sih aku bisa tahan dengan tetap tidak bersentuhan dan menjaga pandangan, tapi dengan Katon,….. haduhhhh,…musiknya ngelangutkan jiwa. Aku kembali bernyanyi. Udah gitu si kisut nggak kelihatan seperti kebanyakan fans Katon lagi (sorry ya cut, hehehe) jadinya unik banget. Beberapa menit kemudian Andy datang dan baru kutahu kalo kita nginap di rumah Mas Ori dulu. Sebelumnya aku nggak terlalu mikirin kenapa jam 9 malam masih di terminal, wong aku sering mendaki malam hari. Jadi kupikir biasa aja.</p>
<p>Sampai dirumah Mas Ori, aku agak sungkan, maklum, belum apa-apa kita udah dibuatin kopi. Udah gitu orang tua Mas Ori ramah banget lagi. Terus dibuatkan makan malam, (perutku baru terisi sebiji bakpau hari ini) n masih lanjut ngobrolnya. Akhirnya aku baru bisa tidur sejam sebelum Shubuh. Senang banget kenalan ama teman-teman. Dari percakapan sebelum tidur, kupahami banget kalo kami naik dengan motivasi dan gaya yang berbeda-beda.  Aku naik dengan motivasi mengalahkan kelemahanku terhadap temperatur yang dingin dan kondisi fisik yang pas-pasan. Itu saja. Bukan buat liburan soalnya aku bisa liburan kapan saja, dan bukan buat senang-senang karena senang-senang kan bisa waktu rihlah (jalan-jalan) kelompok pengajian n bisa sewaktu mudik setahun dua kali apalagi ama keluarga. Pemandangan, foto dan flora-fauna cuma kujadikan bonus. Jadi emang nggak niat bawa kamera. Naik, puncak, turun. That’s it. Nggak bisa muncak nggak papa kalo emang udah berusaha masksimal. Itu sebabnya sebelum ke Argopuro yang panjang aku pemanasan dulu ke gunung Arjuno. Di perjalanan ke Mahameru yang pertama, aku selalu jadi yang paling belakang, ditunggui sama teman yang lain. Arcopodo-Puncak 5,5 jam. Menuju welirang, aku juga jadi yang paling belakang. Alhamdulillah di arjuno fisikku nggak bermasalah, cuma kakiku ada yang melepuh dan kuku jempol kiri minta dicabut. Untung aja membaik di hari-hari menjelang ke Argopuro. Keterbatasan fisik juga yang membuatku nggak mau bawa logistik macam-macam ke gunung. Aku pantang bawa minuman kotak atau apapun yang menambah berat. Dengan sangat terpaksa saja si sarden ikut. Berdua lagi. Kalo nggak buru-buru, mungkin aku sempat beli logistik lain. Kemarin ke Arjuno malah cuma bawa enam sachet bubur instan. Selain lusinan coklat dan segepok madurasa tentunya. Karena fisik yang lemah juga aku selalu menghitung lama perjalanan normal ke pos pengisian air dan menanyakan kondisi jalannya. Biar nggak perlu ngisi air banyak-banyak. Seringkali aku dibilang nggak menikmati perjalanan, terlalu serius dll. Aku nggak terlalu ambil pusing. Kondisi fisik tiap kita kan berbeda-beda, Toh yang lain nggak disedot cairan sumsum tulang belakangnya saat bayi. Yang penting kita berbagi beban bareng, saling menolong kalo ada apa-apa, masak bareng dan turun sama-sama. Kalo yang lain senang ngobrol sampe malam. Aku harus tidur, biar nggak lemas besoknya. Apalagi aku tidurnya harus lama. Aku kan nggak ingin jadi beban orang lain.</p>
<p>Selepas dari rumah mas Ori kita ke Bremi, di sepanjang perjalanan tertukas daun surga oleh bang Nanda,…. Dan melirik ke teman yang duduk disebelahku. Ternyata eh ternyata saudara-saudara, anak yang duduk di sebelahku juga dari Lhokseumawe dan asli Aceh. Bisa-bisanya ketemu di bis menuju Bremi !?! begitulah kalau Allah sudah berkehendak. Berikutnya aku berbicara dalam Bahasa Aceh yang patah-patah. Jadi di perjalanan kali ini aku make bahasa Jawa dengan Andy Guritno n Bara, bahasa Aceh dengan Ikram, bahasa Ibukota dengan yang lain, dan spesial dengan Susan, bahasanya campur-campur. Kadang suroboyoan minus cak cuk, kadang ikut bahasa ibukota kalo lagi ada orang lain. Yang parahnya, nggak ada yang bener-bener aku kuasai, jadinya mungkin serba aneh tuk didengar, tapi akunya bisa 100% mengerti.  Sesampainya di Bremi, kupikir kita akan langsung mengurus perizinan dan lain-lain, ternyata kita santai-santai dulu di pesanggrahan. Namanya newbie, aku nggak pernah sebelumnya menyewa penginapan kalau di backpack udah bawa tenda. Apalagi sempat makan sate, dan masih main kartu di malam harinya. Karena udah kadung kebawa perasaan mau naik gunung, aku tidur duluan melewatkan canda tawa di hall utama pesanggrahan. Itung-itung menyimpan tenaga.  Paginya kita sempat belanja dan sarapan dengan santai sebelum melanjutkan perjalanan. Di awal perjalanan si Mahe ma buluk malah sempat godain gadis kecil yang berjalan didepan kami mau ke sekolah. Untung si gadis kecil nggak berbalik ke belakang .……. (kan cuma Susan yang tampangnya friendly, jadi kalo si gadis kecil ngeliat aku buluk n Mahe lama-lama mungkin dia bakal teriak “penculiikkkkk, ttaaakuuuuuuuutttt”)</p>
<p>Satu hal yang bikin gw terkesima dengan team ini adalah keterbukaannya. Keterbukaan yang pertama gw sadari adalah sewaktu kita duduk di tikungan dekat ladang. Posisi duduk blotong sangat terbuka. Heheheheeeeee dan yang lain nggak malu-malu untuk tertawa atau minimal terkekeh kecil.  Memasuki hutan, mas Ori menunjukkan wajah aslinya,…. Sebagai leader yang bisa ormed. Aku cuma bengong-bengong ngeliat mas Ori membandingkan jalur di hutan yang nyaris tak tembus cahaya matahari ini. Yang jelas kita terus sampai memasuki jalan yang tidak bercabang.   Pelan namun pasti keterbatasan fisikku teruji, satu demi satu pendaki mendahuluiku di Bremi DTH yang penuh tanjakan. Aku yang semula berniat menghemat tenaga dengan berjalan duluan dan istirahat ditengah perjalanan kewalahan menghadapi semangat pendaki yang lain. Ternyata sewaktu aku didepan karena ada urusan dengan metabolisme, teman-teman yang lain makan siang. Walhasil aku baru makan siang di quarter ketiga. Ternyata, tidak merubah kenyataan…. Tanjakan bremi sebegitu ngeheknya sehingga tetap saja aku kehilangan tenaga dan tercecer dari poros tengah team.   Di peristirahatan berikutnya mulai ada titik terang, bang Farid ngomong kalo berikutnya tinggal turunan dan bener, akhirnya kita masuk Danau Taman Hidup. Malamnya mas Ori bilang kalo mas Ori udah nyampe DTH mudah-mudahan sanggup sampai Sicentor. Aku tidur dengan optimis.  Di awal perjalanan menuju Sicentor aku jalan di depan sambil terus menjaga jarak dengan mas Ori. Setiap kali ada persimpangan aku berhenti, sampai akhirnya disusul mbak Nia. Lalu disusul Boim. Udara begitu panas dan tenaga telah banyak terkuras apalagi aku membawa logistik kelompok, aku nggak bisa mengikuti rombongan Boim dan Mbak Nia, Akhirnya aku berjalan berdua dengan Ikram sampai disusul Bang Farid dan Mahe. Lalu pendaki yang lain menyusul. Kita beristirahat panjang di tanjakan menuju simpang lima. Setelah kita diputuskan tuk makan siang di simpang lima, aku naik menyusul teman-teman yang lain. Akhirnya tiba kesempatan bertemu muka dengan teri kacang maknya si buluk,….. wueeeennnaaakkkkkk. Setelah makan siang kita dianjurkan tuk memakai pakaian double tuk menghindari jelatang.   Boim sudah sampai di Kali Putih dengan mbak Nia, sementara aku mbak Enoi (yang ternyata smp nya di Banda Aceh loh) dan Sentot masih di tengah semak belukar. Samar-samar di kejauhan terlihat savana, sementara matahari udah mulai nggak pd lagi muncul di tengah cakrawala, pelan tapi pasti turun dan mengingatkan kalau waktu Ashar sudah hampir habis dan ternyata untuk mencari tempat datar saja sulit. Beberapa menit sebelum gelap aku terpaksa shalat dengan duduk di atas batang kayu besar dan tidak berwudhu karena persediaan air yang terbatas. Ingatlah Allah disaat longgar dan disaat sempit.   Hari telah gelap dan suara air telah sayup terdengar, aku bergegas saat suara antusias Boim mengingatkan untuk meletakkan backpack terlebih dahulu sebelum mengambil air. Tanganku sudah beberapa kali berkenalan dengan jelatang. Sudah nggak kagok lagi. Bahkan saat menyeberangi kali putih pun sang jelatang mengambil posisi yang tepat. Wadawwwww Panas panas panas,…. Tapi aku mengingat air yang dingin. Saat istirahat di batang kayu tadi rekan-rekan pendaki telah berbagi air terakhir. Dan air lagi yang menyemangatiku untuk turun dari basecamp ke kali. Aku minum sekenyangnya.</p>
<p>Akhirnya……  Sesudah hearing di kali putih kita meneruskan perjalanan ke Sicentor, dengan perut terisi, air melimpah dan cukup istirahat aku merasa enteng tuk melanjutkan perjalanan. Seperti anak-anak Jatim lainnya, aku sering trekking di malam hari dalam jangka waktu yang panjang. Medan KaliPutih Sicentor termasuk salah satu medan yang kuanggap menyenangkan. Badan tidak kepanasan (wong malam), track relatif tidak menanjak, ditaburi bintang gemintang, melintasi savana dan didepanku ada mas Bowo yang dengan kekalemannya membuatku percaya diri, kurang apalagi…..aku cuma kerepotan sesekali saat harus merunduk  dan merangkak dibawah pohon tumbang dengan daypack 35 liter di depan dan 75 liter di belakang. Jika mbak Ami merasa lebih senang melewati akar pohon menuju DTH padahal disitu aku udah separuh nafas, aku merasa kondisiku sangat fit malam itu. Tarrriiiiikkkkk mang !  Kembali tidur….. tidur nyenyak di malam pertama di Sicentor. zzzzzzzz  Terbangun.</p>
<p>Entah jam berapa aku shalat shubuh pagi itu. Yang jelas matahari sudah muncul walaupun suasana masih sangat dingin. Ya, jauh lebih dingin dari malam di danau taman hidup. Dulu aku pernah berwudhu saat shubuh di Ranu Kumbolo dan tubuhku sakit karena kedinginan. Belajar dari itu sejak DTH aku hanya tayammum di pagi hari.     Nggak banyak yang bisa kutambahkan dari sarapan pagi hari itu, cerita Susan udah lebih dari cukup. Hari itu aku sarapan pagi dengan porsi sebagaimana mestinya dan kebagian pizza  Naik dengan hanya sebuah jaket, dua botol minuman dan ospreynya Susan, aku merasa “melayang” kalo dibandingkan tadi malam.   Padahal yang lain cerita kalo argopuro adalah satu-satunya liburan mereka tahun ini. Ada yang udah nambah cuti n beresiko dimarahi dengan bos. Banyak yang suntuk dengan kerjaannya jadi pingin senang-senang diatas. Hal ini sedikit banyak berpengaruh dalam perjalanan panjang ini. Udah gitu aku nggak mau setenda dengan perempuan, suka mual mencium asap rokok n cepat habis staminanya kalo istirahatnya sampai dingin. Wah…komplit deh potensi konfliknya.  Tapi dari sini aku belajar. Aku mengenali kelemahanku dan berusaha sebisa mungkin nggak jadi beban orang lain gara-gara itu. Apalagi dengan teman-teman yang baru ku kenal. Di perjalanan aku sering mendahului yang lain n nggak lama-lama istirahat, biar nggak dingin n bisa tidur di tengah perjalanan. Bisa makan di tengah perjalanan. Dan bisa BAB ditengah perjalanan heheheeeee. Aku juga jalan terus kalo team lagi istirahat sambil ngerokok. Bukannya nggak suka sama-sama, tapi aku nggak mau mual di tengah jalan.</p>
<p>Susan bener banget, pendakian bukan sekedar peralatan. Aku setuju 100%. Pendakian pertamaku jalan malam hanya berbekal daypack alpina pinjaman tanpa sleeping bag dan hanya dengan tenda pramuka, bocor lagi. Di perjalanan badai, temanku ada yang sakit dan aku bawa backpacknya naik turun. Tapi kita naik bareng dan turun bareng. Seru, walaupun nggak muncak. Yang kedua masih ke Gn Welirang, kali ini dengan backpack pinjaman dan SB sendiri. Seru juga karena akhirnya kita jalan malam pondokan – kopkopan dan turun lewat jalur penambang belerang. Tapi bareng-bareng.</p>
<p>Di perjalanan kali ini, aku belajar yang namanya leader, sweeper, ada yang ditengah, n komunikasi pake HT. Pembagian kelompok-kelompok kecil. Bahkan baru kali ini aku ikut pendakian yang ada porternya. Termasuk gimana pemakaian porter bersama. Ada saatnya Leader mutusin sendiri, ada saatnya hearing dengan anggota. Harus ada anggota yang diingatin karena terlalu cepat dan ada yang disemangati karena kurang cepat. Ada yang bisa disindir, ada yang nggak (thanks luk). Kalo aku n anak-anak jatim nggak kenal namanya sindiran. Yang ada dikandani atau dipisuhi. Nggak terimo dipisuhi yo diantemi :b  Selain yang dipelajari ada juga yang nggak enak. Yang nggak enak, tanjakan bremi ngehek banget, tapi hikmahnya, aku belajar menghemat tenaga dan air untuk perjalanan 8 jam. Aku pernah jalan seharian, tapi tetap ada pos ngisi airnya.  Selain yang nggak enak, ada juga saat yang bikin malu. Aku malu berasumsi perjalanan Sicentor puncak udah di bahas sebelumnya. Soalnya pagi itu aku bersih-bersihnya paling akhir n mikir kalo teman-teman diatas udah mutusin argopuro dulu atau rengganis dulu. Jadinya di jalan nggak nanya selain ama mas Bowo. Jadinya ke Rengganis dulu. Iya, beda dengan team yang lain, aku mas Bowo n Mbak Nia ke Rengganis dulu baru ke Argopuro. Jadinya aku nungguin yang lain sejam-an di dekat tempayan nggak makan siang n nggak muncak rame-rame. Udah gitu foto dipuncak Rengganis gagal lagi. Akunya nggak bisa setting timer kamera mbak Nia. Walah.  Aku juga malu banget waktu sesampainya di Danau Taman Hidup baru kutahu, bukan Susan yang ikut tenda lain tapi aku yang tidur dengan Andy. Padahal aku sama sekali nggak bantu dirikan tenda atau nyiapin logistik Andy. Apalagi membawakan tenda Andy.  Pas jalan pulang Sikasur-Baderan aku juga malu karena nggak bertanya ama mbak Ami yang kakinya melepuh butuh trekking pole apa nggak, selain karena luka 2 minggu yang lalu di Arjuno kebuka lagi, kebanyakan teman yang kutanyai di surabaya ngomong kalo nggak biasa pake. Tapi beda dengan mas Ori, mas Ori peka dan menanyakan ke mbak Ami, sense itu aku belum punya. Masih harus belajar banyak dengan mas Ori.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kelilipan.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kelilipan.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kelilipan.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kelilipan.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kelilipan.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kelilipan.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kelilipan.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kelilipan.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kelilipan.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kelilipan.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kelilipan.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kelilipan.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kelilipan.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kelilipan.wordpress.com/46/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kelilipan.wordpress.com&amp;blog=6822633&amp;post=46&amp;subd=kelilipan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kelilipan.wordpress.com/2009/05/23/argopuro/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/51c87f133944d8058b5eedcb72a8808d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kelilipan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Demi yang Tercinta</title>
		<link>http://kelilipan.wordpress.com/2009/05/23/demi-yang-tercinta/</link>
		<comments>http://kelilipan.wordpress.com/2009/05/23/demi-yang-tercinta/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 23 May 2009 02:38:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kelilipan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catper]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kelilipan.wordpress.com/?p=43</guid>
		<description><![CDATA[Tulisan ini catatan perjalanan pulang saya menggunakan bis ekonomi Antar Lintas Sumatra dari Surabaya ke Medan. Dengan penumpang hanya sebelas orang, dalam hati saya bertanya kapan kami akan tiba di Surabaya. Sebenarnya waktu buat saya bukan masalah, karena sampai saat ini saya masih pengangguran. Saya hanya kurang suka menghabiskan waktu di jalan tanpa melakukan apapun. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kelilipan.wordpress.com&amp;blog=6822633&amp;post=43&amp;subd=kelilipan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:left;">Tulisan ini catatan perjalanan pulang saya menggunakan bis ekonomi Antar Lintas Sumatra dari Surabaya ke Medan.</p>
<p style="text-align:left;">Dengan penumpang hanya sebelas orang, dalam hati saya bertanya kapan kami akan tiba di Surabaya. Sebenarnya waktu buat saya bukan masalah, karena sampai saat ini saya masih pengangguran. Saya hanya kurang suka menghabiskan waktu di jalan tanpa melakukan apapun. Dan dengan jadwal pemberangkatan yang molor 3 jam dari pemberitahuan ; ditambah sedikitnya penumpang dari Surabaya, kekhawatiran saya jadi tambah beralasan. Di perjalanan nekad beberapa tahun yang lalu dengan bis ekonomi yang sama, perjalanan menjadi sangat panjang dan bertele-tele. Bagaimana tidak, dalam sehari bis berhenti lebih dari empat kali dengan alasan kerusakan mesin atau menunggu penumpang. Entah mesinnya benar-benar rusak atau tidak, saya tidak tahu. <span id="more-43"></span>Yang jelas saya merasa tertekan secara fisik dan emosi apalagi saat itu saya duduk bersebelahan dengan seorang perokok aktif, sangat aktif.</p>
<p style="text-align:left;">Sekedar tambahan informasi, menurut saya manusia adalah salah satu makhluk terbodoh di dunia. Untuk makhluk yang dianggap bodoh lain seperti keledai, manusia membuat pepatah “Bahkan keledai pun tidak akan jatuh di lubang yang sama dua kali. Bagaimana bisa dipahami seorang manusia menghisap rokok yang menghabiskan uangnya, membuat bau bajunya, merusak celananya, menghitamkan paru-parunya dan memperpendek sisa umurnya dan yang paling parah, dia juga menjengkelkan orang lain dan ikut membunuh pelan-pelan orang-orang terdekatnya. Dan manusia menghisap rokok berulang-ulang dalam sehari.</p>
<p style="text-align:left;">Dengan menjadikan rokok adalah bagian dari kenikmatan hidup, hal itu jadi lebih tidak masuk akal. Rokok kan memperpendek hidup, yang berarti mengurangi kesempatan kita untuk mencari tahu dan mencoba serta menikmati kenikmatan hidup yang lain. Yang siapa tahu jauh lebih nikmat.</p>
<p style="text-align:left;">Apakah boleh jika saya katakan perokok lebih bodoh dari keledai ?</p>
<p style="text-align:left;">Kembali ke bis kita, kira-kira 20 menit dari pemberangkatan, hari telah gelap dan supir menepi. Saya bertanya-tanya dalam hati, secepat inikah bisnya rusak ? Ternyata sang supir hanya memeriksa salah satu ban belakang yang kelihatannya kempis. Tidak lebih dari lima menit perjalananpun dilanjutkan kembali. Wajah-wajah ekonomis yang menaiki bis sudah tidak kelihatan. Ya, anda tentunya tidak berharap dapat bersebelahan dengan model di dalam bis ekonomi yang akan menempuh perjalanan hampir seminggu. Kabar baiknya, saya sendirian. Iya memang penumpang dari Surabaya hanya sebelas orang, dan harusnya semuanya bisa duduk sendirian, tapi kenyataannya tidak. Penumpang yang lain sudah berkenalan di ruang tunggu keberangkatan, jadi banyak yang memilih duduk berdua. Sementara saya sendiri sibuk mengawasi kardus-kardus berat dan sepeda motor yang dinaikkan ke atap bis. Kalau saya memilih mengirimkannya dengan jasa pengiriman, selisih biaya kirimnya lebih kurang sama dengan seunit komputer yang bisa saya rakit sendiri. Jadi setelah dikalkulasi, biaya kirim bawaan saya ; empat dus yang hampir seratus kilo ditambah sepeda motor totalnya 1,3 juta. Terserah saya mau naik bis itu atau tidak. Artinya tiket saya gratis.</p>
<p style="text-align:left;">Di kegelapan malam, nyala oranye sebesar pensil bermunculan, hehehee,… penderitaan dimulai. Namun ini bukan perjalanan saya yang pertama, jadi saya sudah punya pengalaman. Dengan memperhatikan perbedaan tekanan di dalam bis dan diluar, saya bisa mengatur asap rokok agar tidak  terlalu mengganggu. Saya menutup jendela terdekat, membuka jendela yang di depan lebar-lebar dan membuka sedikit jendela yang dibelakang. Jadi asap rokok langsung kebagian belakang bis yang memang kosong. Lalu saya tertidur dan terbangun ketika bis berhenti dan karenanya asap rokok kembali bergentayangan di udara. Bis berhenti di terminal Nganjuk. Saya sudah makan malam, tepatnya makan sore. Jadi saya hanya keluar untuk buang air kecil. Setelah berangkat kembali saya mengobrol dengan seorang bapak yang duduk di sebelah. Si bapak bercerita tentang usahanya di perkebunan kelapa sawit, obyek yang saya sukai. Dengan lahan lima belas hektar yang setelah dia bagi untuk anak-anaknya tinggal enam hektar. Dan saat ini harga sawit Rp 1600,- perkilo. Singkatnya, bapak lulusan SD itu berpendapatan lebih besar dari sebagian besar lulusan sarjana yang bekerja di perusahaan besar di Jakarta.  Saya dapat ilmu banyak dari beliau.</p>
<p style="text-align:left;">Paginya bis berhenti di Weleri, Jawa Tengah. Kalau mengatur asap rokok itu jurus pertama naik bis ekonomi, pagi nya saya mempraktekkan jurus keduanya. Membeli makanan di luar warung makan resmi bis. Dengan asumsi pembaca tulisan ini sebahagian besar belum pernah naik bis ekonomi berdurasi hampir seminggu, akan saya jelaskan sedikit soal ini. Di perjalanan yang panjang, penumpang bis pasti harus makan. Di Jawa dan sekitarnya, makan sudah termasuk harga tiket bis. Rata-rata perjalanan hanya butuh satu atau dua kali makan kan ? Namun kalau anda menempuh perjalanan dari ujung timur jawa ke ujung barat Sumatera, pengaturannya akan ruwet. Saat ada kerusakan mesin dan penundaan, jadwal makan bisa berantakan dan penumpang lapar tidak bisa menunggu bis tiba di warung makan resmi bis. Jadi, di perjalanan yang panjang ada lebih banyak warung makan resmi dari kebutuhan seharusnya. Makan tidak disertakan dalam tiket jadi penumpang harus membeli sendiri. Ada ruang khusus untuk supir dan kernet, dan mereka bisa makan gratis dengan harapan penumpang juga ikut makan dan membayar subsidi itu. Di beberapa wilayah, sang pemilik warung makan ikut bertanggung jawab atas kecelakaan PO bis yang bersangkutan dan menyelesaikan urusan dengan aparat. Ini yang membuat harga makanan di warung resmi bis sangat mahal (untuk kualitas yang seperti itu). Belum lagi untuk kelancaran proses pengurusan masalah, mereka membiarkan aparat berbaju coklat untuk makan gratis di warung makan mereka. Warung makan ini sebagian besar menu nya masakan padang dan tidak heran perut sang aparat terlihat makin berat.</p>
<p style="text-align:left;">Melihat adanya peluang, terkadang ada warung kecil yang dibuka di dekat warung makan bis. Tidak murah memang, tapi tidak semahal warung makan bis. Menu nasi dengan lauk telur pagi itu saya tebus seharga enam ribu rupiah. Apa cuma masalah harga ? tidak juga. Warung makan resmi kan harus memasak dalam jumlah besar, padahal banyaknya penumpang dan kapan penumpang makan tidak dapat diperkirakan. Jadi warung makan resmi selalu memilih menu yang dapat dipanaskan. Jangan harap anda bisa mendapatkan menu sayur bening misalnya. Di warung makan luar, masakan yang saya pesan baru diangkat dari kuali. Dan karena saya juga sedikit-sedikit bisa memasak, saya tahu betul masakannya baru. Tidak ada yang lebih menyenangkan dari makan masakan fresh from the kuali. Setelah itu saya kembali ke warung makan “resmi” dan kembali mengobrol dengan bapak kelapa sawit. Kami berhenti sejak shubuh sampai jam delapan pagi. Kalau naik kereta api Gumarang, saya mungkin sudah sampai di Jakarta karena bis berangkat menjelang maghrib kemarin sore. Setelah itu bis berhenti untuk mengisi solar. Saya ingin tahu perjalanan kami menghabiskan solar berapa liter, soalnya sebelumnya sang sopir sempat mengatakan angka enam juta rupiah untuk solar Surabaya – Medan. Saya tidak begitu yakin. Kebetulan di bangku no 9 yang saya pilih, saya selalu bisa melihat jumlah BBM yang mereka beli, kecuali ketika saya terlelap tentunya.</p>
<p style="text-align:left;">Di terang benderang perjalanan siang itu, kami melewati Brebes dan saya puas menyaksikan panenan bawang serta pajangan telur asin. Jalur pantura juga sedang diperbaiki sehingga perjalanan semakin labat dan panas.</p>
<p style="text-align:left;">Akhirnya bis berhenti untuk makan siang di Cirebon. Ada insiden disini. Seorang nenek yang duduk sendirian di bangku no lima (artinya persis di depan saya) kehilangan dompet dan uangnya. Kejadiannya terjadi saat nenek sedang shalat. Saya ingat betul kalau sehabis mandi saya menunaikan shalat Dhuhur dan Ashar  dan pada saat itu si nenek dengan Ibu yang duduk di bangku no 1 sedang bersiap-siap. Si ibu no 1 shalat bersebelahan dengan si nenek. Nenek meletakkan tas tangannya di belakang kakinya. Saat itu muncul laki-laki tak dikenal tiduran dibelakang nenek. Sementara saya sendiri di depan, ya iyalah &#8211; saya kan laki-laki. Setelah selesai shalat saya mendengar penjaga kotak kamar mandi berbicara “ya udah ibu kalau nggak mau bayar bilang aja” dan si nenek kelihatan kebingungan mencari isi tas tangannya. Dompetnya yang berisi uang 700 ribu raib dan tidak itu saja, uang 70 ribu yang dimasukkan dalam tas tangan tapi di luar dompet juga hilang. Jadi si nenek kehilangan uang sebesar 770 ribu. Kami semua sempat kebingungan karena nenek itu panik saat menceritakan apa yang terjadi. Wanita itu susah dimengerti, apalagi wanita panik. Bayangkan saja nenek-nenek panik. Akhirnya kami mengerti kalau nenek itu mencurigai laki-laki yang tidur tadi. Si nenek bercerita kalau tadinya saat dia selesai shalat, tas tangannya tidak dalam posisi semula. Yang gawat, karyawan warung makan itu yang tidak sependapat, karena yang dituduh si nenek adalah karyawan pembersih kamar mandi disitu. Di ujung cerita semua menyalahkan si nenek kenapa ceroboh. Seharusnya barang berharga tidak boleh lepas dari pandangan. Si karyawan malah menceritakan beberapa bulan lalu ada kehilangan uang dua juta dan bahkan ada yang sampai 14 juta disitu. Polisi sudah datang dan bawa anjing pelacak tapi pelakunya juga tidak ketemu. Jadi uang 700 ribu itu biasa, jangan dilebih-lebihkan. Penumpang jarak jauh memang biasa bawa uang banyak, minimum dua juta katanya.</p>
<p style="text-align:left;">Saya tertawa dalam hati karena saya sendiri cuma bawa uang dua ratus ribu. Orang yang sering bepergian jauh tentu tahu bahayanya memegang seluruh uang dalam bentuk tunai.</p>
<p style="text-align:left;">Dengan putus asa nenek itu kembali ke bis dan tidur di dalam bis yang panas. Saya ingat betul kalau terakhir kali saya lihat si nenek di pemberhentian sebelumnya cuma beli arem-arem. Perjalanan sendiri masih panjang dan uang tunai yang saya punya tidak cukup untuk menanggulangi semua masalah ini. Akhirnya saya dekati si nenek dan menawarkan bekal makanan saya. Toh saya sendiri sedang berusaha mengurangi berat badan. Saya tanyakan lagi tujuan si nenek. Lalu si nenek bercerita kalau dia mau menjenguk anaknya di Lampung. Si nenek ke Surabaya di antar oleh anaknya, yang tinggal di sebuah kota di Jawa Timur Dari bekal uang yang dia punya si nenek masih mengongkosi pulang anaknya. Dengan kondisi seperti itu, tanpa uang, tanpa makanan saya mencoba melihat peluang agar si nenek bisa kembali ke Jawa Timur. Saya bertanya apa anaknya nenek punya ponsel. Si nenek menjawab yang di Jawa ada, yang di Lampung tidak. Saya menawarkan untuk menelpon anaknya yang di Jawa, si nenek menolak,… “Kasihan anak saya, bulan ini dia ada cicilan sepeda motor, uang listrik dan lain-lain,…kalau saya pulang pasti merepotkan anak saya. Tadi saja dari Surabaya saya yang mengongkosi. Wah repot juga jadinya. Yang jelas si nenek sudah punya tiket sampai terminal RajaBasa. Setelah itu si nenek berkata akan jualan baju (saya diperlihatkan dua buntalan kain besar di kaki beliau) untuk ongkos ke rumah anaknya yang katanya tidak sampai 50 ribu rupiah.</p>
<p style="text-align:left;">Saya terharu,… begitu besarnya cinta seorang ibu terhadap anaknya. Nenek itu tidak tahu pasti alamat anaknya. Hanya ingat di terminal nanti harus naik apa dan turun dimana berdasarkan ingatannya pulang tahun kemarin. Nenek itu pulang, demi yang tercinta.</p>
<p style="text-align:left;">Bapak kelapa sawit berubah menjadi Pak Dirman saat saya mengobrol dengan mas teman sebangku beliau. Mereka berdua terlihat kompak karena memakai kacamata hitam bergaya anak muda. Dan mengingatkan saya dengan Ian Kasela. Dededem dededem ,…</p>
<p style="text-align:left;">Tapi dengan merekalah akhirnya saya habiskan pembicaraan sepanjang perjalanan. Alasan utamanya sangat sederhana. Mereka termasuk yang turun belakangan seperti saya. Jadi kami bisa saling menjaga. Saling membangunkan kalau bis berhenti dan saling mengingatkan supir siapa tahu ada diantara kami yang masih belum naik saat bis akan berangkat. Jurus no dua saya praktekkan lagi saat bis merapat di dekat dermaga penyebrangan Merak. Karena saat itu saya terjaga, saya sempat melihat sebuah pom bensin lengkap dengan supermarket dan kelihatannya juga ada tulisan TUNAI BCA. Bersama mas no 3, saya menyelinap untuk menambah uang cash sekalian membeli makanan siap saji buat saya dan tentu saja buat nenek. Ternyata ada ATM di pom bensin itu. Masalah nenek selesai. Mas no 3 yang ikut dan katanya mau membeli handuk malah membatalkan niatnya dan membeli jam tangan dari penjual yang mendatangi meja tempat kami minum kopi. Jam ditawarkan seharga 150ribu dan akhirnya berpindah tangan ke mas bangku no 3 di angka 35 ribu. Saya tidak tahu berapa modal dasarnya namun melihat kualitas jamnya saya rasa si penjual jam sudah untung ratusan persen dengan transaksi itu.</p>
<p style="text-align:left;">Setelah ngopi dan makan roti kami pun menyebrang ke Bakauheni. Di perjalanan pak Dirman bercerita kalau dia minggu lalu baru saja mengantarkan istri keduanya. Istrinya berencana melahirkan di rumah ibunya di Mataram. Pak Dirman sendiri sudah punya cucu. Tanpa diminta pak Dirman bercerita bahwa pada suatu hari beliau melihat seorang perempuan menggelandang di depan rumahnya. Saat ditanya perempuan itu menjawab kalau dia tertipu ajakan kerja dan namun ternyata malah akan dijual ke Malaysia. Akhirnya dia lari dan menggelandang sampai disitu tanpa bekal sama sekali. Karena kasihan akhirnya perempuan itu diberi makan dan pakaian serta diberi pekerjaan di keluarga pak Dirman. Entah bagaimana ceritanya (saya sendiri hanya mendengarkan saja) perempuan itu dinikahi pak Dirman. Dalam waktu beberapa minggu pak Dirman menyebrangi dua pulau untuk mengantarkan yang tercinta. Sumatera Mataram dan langsung kembali ke Sumatera. Rencananya, dalam waktu dekat pak Dirman akan kembali lagi ke Mataram setelah memanen kelapa sawitnya. Pak Dirman belum kenal Mandala, apalagi AirAsia, tapi dia mau menderita demi yang tercinta.</p>
<p style="text-align:left;">Pak Dirman juga bercerita, mas teman sebangkunya yang bekerja di Bali akan turun di Medan untuk menemui kekasihnya. Mereka sama sekali belum pernah bertemumuka. Hanya kenalan lewat telepon sejak Desember 2008 yang lalu. Mereka tidak pernah bertukar gambar. Hanya bicara dan sms dibantu murahnya tarif TalkMania. Dari Bali ke Medan hanya untuk kopi darat, yang kalau diibaratkan minuman, saya rasa mereka ini sudah mabuk berat. Yang lebih dahsyat, karena keinginan si perempuan begitu kuat, si perempuan juga yang mengirimkan biaya perjalanan lewat darat. Mungkin kalau lewat udara si perempuan tidak kuat. Tapi mas itupun rupanya nekat. Dia berani ke Medan hanya berbekalkan no ponsel dan alamat. Tanpa kenalan di Medan apalagi kerabat. Padahal Bali Medan bukanlah jarak yang dekat. Janji kopi darat di rencanakan pukul satu tepat di Amplas, pas di simpang empat. Buat anda yang belum tahu daerah amplas, daerah itu bukanlah tempat yang bersahabat.</p>
<p style="text-align:left;">Saya sempat menguji mas ini dengan pertanyaan khas remaja,…aspek fisik. Dan jawabannya sederhana, khas remaja juga,…”kalau oke menurut saya, saya akan tinggal lama,… dan kalau nggak oke, ntar mas ajakin aku jalan-jalan yah,…”</p>
<p style="text-align:left;">Tiga kisah ini saya dapat di satu perjalanan, perjalanan yang sangat berkesan. Lebih berkesan daripada pengalaman menikmati kopi di atas awan atau meneguk jahe hangat di puncak ketinggian. Cinta nenek yang mengalami ujian, cinta Pak Dirman yang meretas tanggung jawab, dan cinta sepasang remaja yang buat saya hanya memuaskan rasa penasaran. Ambil saja contoh dari yang dua, dan jadikan pelajaran dari contoh yang ketiga. Mereka yang bercinta sering lupa segalanya. Lupa tanggung-jawabnya, lupa jati diri dan lupa hakikat hidupnya. Berbahagialah buat pecinta yang bercinta di tempat tertingginya. Cinta yang abadi bukan yang sesaat, yang menentramkan walau kadang tak terasa nikmat, dan yang penuh keikhlasan walau dibarengi kewajiban berat. Buat anda saya ucapkan selamat !</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kelilipan.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kelilipan.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kelilipan.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kelilipan.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kelilipan.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kelilipan.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kelilipan.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kelilipan.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kelilipan.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kelilipan.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kelilipan.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kelilipan.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kelilipan.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kelilipan.wordpress.com/43/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kelilipan.wordpress.com&amp;blog=6822633&amp;post=43&amp;subd=kelilipan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kelilipan.wordpress.com/2009/05/23/demi-yang-tercinta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/51c87f133944d8058b5eedcb72a8808d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kelilipan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mencermati Iblis</title>
		<link>http://kelilipan.wordpress.com/2009/04/25/mencermati-iblis/</link>
		<comments>http://kelilipan.wordpress.com/2009/04/25/mencermati-iblis/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 25 Apr 2009 19:07:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kelilipan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kelilipan.wordpress.com/?p=36</guid>
		<description><![CDATA[Dia mungkin ada di kepala manusia, mungkin ada dihatinya dan mungkin juga ada di jasadnya. Mungkin tidak semua, mungkin juga tidak sama sekali . . . . berhubung Iblis sejak semula telah bersumpah untuk menggoda manusia, tapi , ya . . . . namanya sumpah Iblis, kan mungkin saja Iblis ingkar janji. Berbanggalah kamu yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kelilipan.wordpress.com&amp;blog=6822633&amp;post=36&amp;subd=kelilipan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Dia mungkin ada di kepala manusia, mungkin ada dihatinya dan mungkin juga ada di jasadnya. Mungkin tidak semua, mungkin juga tidak sama sekali . . . . berhubung Iblis sejak semula telah bersumpah untuk menggoda manusia, tapi , ya . . . . namanya sumpah Iblis, kan mungkin saja Iblis ingkar janji. Berbanggalah kamu yang merasa belum pernah digoda Iblis, bukan apa-apa, jangan-jangan asumsi itu muncul dari rasa PD yang ditiupkan Iblis itu sendiri.</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-36"></span>Makanya kita pantas lebih mengenal Iblis, biar bisa lebih hati-hati dengan metodologi pergerakannya. Alkisah suatu hari jauh sebelum manusia dilahirkan, Iblis hanya mengenal Malaikat. Belum ada bumi, belum ada hewan, belum ada tumbuhan. Sehingga dengan santai Iblis menganggap dirinya setara dengan Malaikat. Malaikat diciptakan dari cahaya, Iblis dari api. Toh api juga memancarkan cahaya, walaupun nggak semua cahaya berasal dari api. Iblis dan Malaikat juga hanya tunduk pada Allah, tidak dengan yang lain. Yah fine-fine ajalah. Hingga suatu masa . . . .</p>
<p style="text-align:justify;">Allah menciptakan manusia. Manusia yang diciptakan dari tanah. Unsur yang kelihatannya lebih rendah dari api. Orang bikin keramik kan dari tanah terus dibakar pakai api, artinya sebelum disentuh api, tanah takkan bisa jadi lebih mulia. Ternyata Iblis itu cerdas dan juga PD. Disaat dialog antara Malaikat dan Allah dimulai, Iblis cuma menjadi penonton, penasaran ingin tahu, seperti apa sih posisi manusia ini nantinya. Kira-kira selevel denganku dan Malaikat nggak ya ? Malaikat bertanya, &#8220;Ya Allah, mengapa Kau ciptakan manusia, bukankah nantinya manusia hanya akan mengakibatkan kerusakan ?&#8221; Allah menjawab &#8220;Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui&#8221; Malaikat diam dan patuh. Menunggu perintah Allah yang lain. Setelah itu, Allah menyuruh Malaikat dan Iblis sujud pada manusia. Sujud ini bukan tanda penyembahan tapi tanda penghormatan. Malaikat patuh dan sujud, tapi Iblis nggak, pikirnya . . . . Buat apa aku menghormati manusia yang nggak lebih mulia dariku ? Nggak level lah yaw,&#8230;</p>
<p style="text-align:justify;">Pada Allah, Malaikat bertanya tapi Iblis mempertanyakan. Dua hal yang sangat berbeda  kan ? Nah posisi Iblis sudah terjepit dan jadi minoritas, tapi dasar keras kepala, Iblis tetap tidak mau sujud, egonya lebih tinggi daripada kepatuhannya. Iblis itu minoritas yang tidak patuh dan egois . Terus Iblis dijanjikan Allah akan kekal di neraka, Iblis bilang &#8220;OK, tapi aku nggak mau sendirian, akan kuajak manusia sebanyak-banyaknya mengikuti jalanku  &#8221; Udah jelek, nggak mau jelek sendiri. Iblis kerjaannya mengajak orang lain ikut jelek juga.</p>
<p style="text-align:justify;">Yah, saat inilah genderang perang manusia dan Iblis dimulai. Manusia ada banyak, Iblis juga. Bedanya manusia punya bekal akal dan nafsu, tapi Iblis tidak. Kalo akalnya jalan, pasti jika dia tunduk pada Allah, berarti tunduk pada perintah Allah. Meskipun perintah itu menyuruh dia tuk sujud pada manusia, hal yang tidak diterima egonya. Buat jadi guide di dunia, diturunkan kalimat Allah dalam Kitab Suci. Tidak cuma konsep, teknisnya juga diturunkan. Dipilih manusia yang mencontoh bagaimana menjalankan isi kitab suci.</p>
<p style="text-align:justify;">Kenapa manusia, kok bukan Malaikat. Simpel saja, nanti manusia malah bikin alasan. Habis dia Malaikat sih, ya gampang saja menjalankannya. Dan malah tidak patuh sama sekali. Intinya tetap satu, tunduk pada Allah. Penjabarannya ya tunduk pada perintah Allah. Tunduk pada utusan Allah. Tunduk pada kitab Allah. Kalau Allah berkata Kitab Allah berlaku sampai akhir zaman, jangan dibilang cuma buat orang arab aja. Kalau Allah berfirman Rasulullah utusan Allah yang terakhir, jangan ditambah-tambah lagi dong. Kalau Allah bersabda hei manusia tutup auratmu, pake jilbab, celana panjang. Ya ikut. Kalo alasannya belum siap, jelas nggak mungkin. Karena Allah telah mengatakan bahwa Allah tidak memerintahkan sesuatu yang kita tidak mampu menjalankannya. Jadi sudah diukur gitu loh. Yang mengukur yang menciptakan kita, masa&#8217; bisa salah ? Nah kalau kamu melihat orang yang cerdas, PD, egois, terus mempertanyakan perintah Allah (Kitab Allah, hukum Allah, Rasulullah dll), minoritas dan mengajak orang lain ikut di jalan dia, misalnya bikin kajian di koran . . . .. Hati-hati, mungkin mereka itu muridnya . . . . .</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kelilipan.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kelilipan.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kelilipan.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kelilipan.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kelilipan.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kelilipan.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kelilipan.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kelilipan.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kelilipan.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kelilipan.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kelilipan.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kelilipan.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kelilipan.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kelilipan.wordpress.com/36/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kelilipan.wordpress.com&amp;blog=6822633&amp;post=36&amp;subd=kelilipan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kelilipan.wordpress.com/2009/04/25/mencermati-iblis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/51c87f133944d8058b5eedcb72a8808d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kelilipan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pengemis yang istiqamah</title>
		<link>http://kelilipan.wordpress.com/2009/03/23/pengemis-yang-istiqamah/</link>
		<comments>http://kelilipan.wordpress.com/2009/03/23/pengemis-yang-istiqamah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Mar 2009 18:47:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kelilipan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kelilipan.wordpress.com/?p=20</guid>
		<description><![CDATA[Suatu saat sepuluh tahun yang lalu, saya berjalan di selasar kampus dan melihat seorang pengemis yang duduk menengadahkan tangannya memohon dengan nada memelas. Si ibu paruh baya,&#8230; memakai topi ala Duta So7 berselempangkan kain panjang dengan kemeja pria kotak-kotak dan rok kumal meminta kepada setiap mahasiswa yang lewat menggunakan bahasa Jawa halus, yang tentu saja [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kelilipan.wordpress.com&amp;blog=6822633&amp;post=20&amp;subd=kelilipan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Suatu saat sepuluh tahun yang lalu, saya berjalan di selasar kampus dan melihat seorang pengemis yang duduk menengadahkan tangannya memohon dengan nada memelas. Si ibu paruh baya,&#8230; memakai topi ala Duta So7 berselempangkan kain panjang dengan kemeja pria kotak-kotak dan rok kumal meminta kepada setiap mahasiswa yang lewat menggunakan bahasa Jawa halus, yang tentu saja saat itu belum saya pahami artinya. Namun, bahasa tubuh beliau sangat jelas terbaca dan dengan ringan saya mengeluarkan uang receh.<span id="more-20"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Hari demi hari berlalu, saya semakin mengenal wilayah kampus dan mencoba menempuh rute-rute yang berbeda di waktu yang berbeda-beda. Si ibu, terlihat ada di mana-mana, terus menerus. Pada dasarnya saya termasuk orang yang tidak suka memperhatikan orang lain dan detail sebuah kejadian. Cuma dalam kondisi ini, akal sehat saya tergelitik untuk melihat seberapa jauh perkembangan mereka yang tertindas ini. Terutama si ibu, Mohon maaf ibu, saya tidak pernah menanyakan nama ibu, tidak pernah tahu rumah ibu, dan mungkin ini mencegah saya menjadikan tulisan ini menjadi ghibah. Yang jelas, saya kagum dengan semangat ibu, kagum dengan konsistensi ibu. Saya melihat ibu di hampir seluruh wilayah kampus saat jam kuliah, di sekitar kos-kosan mahasiswa di sore dan malam hari. Dan di wilayah yang lebih jauh di hari Sabtu dan Minggu.</p>
<p style="text-align:justify;">Nada memelas yang terdengar setiap orang lewat didepan ibu, tidak lagi menyentuh emosi saya, padahal saya sudah bisa mengartikannya. Dengan jam kerja sepanjang itu, wilayah seluas itu, dengan persistensi yang hebat membuat saya menghitung-hitung, sampai berapa lama lagi uang yang berhasil ibu kumpulkan bisa buat modal untuk keluar dari himpitan tekanan ekonomi yang ibu rasakan.</p>
<p style="text-align:justify;">Sering saya terpaksa berlebaran di kota ini, karena sayang menghabiskan uang sebanyak itu untuk ongkos buat pulang, melewatkan hari-hari indah dalam kesepian di kampus yang megah. Saya berkeliling dan tidak melihat seorang pengemis pun. Dalam hati saya berkata, mungkin saja semua pengemis di sekitar saya itu muslim. Yang artinya, sudah jadi kewajiban saya juga untuk mengangkat saudara saya sebatas yang saya bisa. Atau, mungkin mereka sudah merencanakannya sehingga bisa bertahan di hari-hari ini. Satu lagi kesimpulan yang membuat saya berpendapat, hasil pekerjaan itu sudah cukup untuk dibuat perencanaan keuangannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Kalaupun saya mendengar kasus gizi buruk, bunuh diri dan lain-lain, lebih sering itu ditemukan di keluarga malang yang bekerja, namun hasilnya tidak mencukupi atau hasil yang sudah sedikit itu ada di tangan kepala keluarga yang menghabiskannya untuk rokok, judi, mabuk dan penyakit masyarakat lain.</p>
<p style="text-align:justify;">Tahun demi tahun berlalu, ibu masih berjalan dengan cepat, sigap, dan efisien. Tidak ada kerutan terlihat di wajah ibu. Tidak ada perubahan nada yang saya dengarkan saat kebetulan (yang berulang-ulang) saya lewat didepan mahasiswa lain yang menunduk dan memberikan uang. Teman sejawat ibu sudah berganti, mas yang berjualan di kantin sudah berubah, saya pun bukan mahasiswa lagi, namun saya masih mendengarkan suara yang sama.</p>
<p style="text-align:justify;">Mungkin dulu ibu teringat, setiap lewat saya menatap lekat dan seolah kenal, ibu melewatkan saya dan meminta orang di belakang saya. Entah apa yang ada di pikiran ibu saat itu. Namun yang ada di pikiran saya, banyak sekali orang terjepit di negeri ini yang mau memilih bekerja dengan bayaran sepertiga UMR untuk mencuci pakaian keluarga lain, menjadi pembantu rumah tangga atau pekerjaan yang lain. Sementara dari sisi hasil, berdasarkan perhitungan saya yang bodoh ini, ibu jauh lebih berhasil.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan saya sekarang mengerti kenapa rekan saya yang toko-nya dilewati puluhan peminta-minta setiap hari memilih hanya beramal pada pengemis yang cacat atau sudah tua. Dan bukan pada yang itu-itu saja.</p>
<p style="text-align:justify;">Tapi tenang saja bu, tiap tahun mahasiswa baru bertambah, kampus kita sekarang punya berbagai jalur untuk menerima mahasiswa baru yang kalau saya perhatikan, makin lama makin berduit. Mungkin ibu dilarang masuk ke apartemen di bekas tambak udang warga, disamping asrama mahasiswa. Atau di kompleks mewah yang menyulap pemakaman umum di pintu masuknya menjadi tembok tinggi indah berbunga. Tapi setidaknya kan mahasiswa baru bertambah</p>
<p style="text-align:justify;">******************************************************</p>
<p style="text-align:justify;">Maaf bu, hati saya tidak seperti dulu, sepuluh tahun yang lalu saat saya masih mahasiswa baru dan mengeluarkan uang receh dari saku. Kebetulan saya pun baru menonton film terkenal itu, Slumdog Millionaire,&#8230; saat baru-baru  ini ibu melintas di toko saya yang terpaksa saya alihtangankan karena krisis ini. Ibu yang dulu menggendong semacam buntalan dengan kain panjang, kini datang menggendong bayi yang tertidur pulas.</p>
<p style="text-align:justify;">Saya tidak se-istiqamah ibu,&#8230; tidak sekonsisten ibu. Usaha saya untuk mencukupi hidup telah berubah, teman-teman berganti, bahkan saya tidak lagi tinggal di kota yang sama. Sekarang saya lemah, ibu masih gagah. Entah bagaimana caranya, ibu kok bisa menggendong bayi sedangkan saya bahkan belum menikah.</p>
<p style="text-align:justify;">Saya kalah,&#8230;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kelilipan.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kelilipan.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kelilipan.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kelilipan.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kelilipan.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kelilipan.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kelilipan.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kelilipan.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kelilipan.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kelilipan.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kelilipan.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kelilipan.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kelilipan.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kelilipan.wordpress.com/20/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kelilipan.wordpress.com&amp;blog=6822633&amp;post=20&amp;subd=kelilipan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kelilipan.wordpress.com/2009/03/23/pengemis-yang-istiqamah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/51c87f133944d8058b5eedcb72a8808d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kelilipan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Akhirnya dia ketemu bapaknya</title>
		<link>http://kelilipan.wordpress.com/2009/03/20/akhirnya-dia-ketemu-bapaknya/</link>
		<comments>http://kelilipan.wordpress.com/2009/03/20/akhirnya-dia-ketemu-bapaknya/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Mar 2009 06:06:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kelilipan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hobi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kelilipan.wordpress.com/?p=15</guid>
		<description><![CDATA[Saya sempat pesimis pada ujung cerita Naruto, apa kehadiran kembali Yondaime memunculkan tokoh penjahat baru dan memperrumit cerita ? Cuma kekhawatiran saya sirna setelah membaca chapter 440 yang kembali menegaskan kyuubi dikendalikan oleh Uchiha Madara. Namun yang agak membingungkan, &#8220;bagaimana&#8221; caranya yondaime kembali dan dimana chakra kyuubi yang separuh lagi. Tidak enak rasanya melihat plot [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kelilipan.wordpress.com&amp;blog=6822633&amp;post=15&amp;subd=kelilipan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Saya sempat pesimis pada ujung cerita Naruto, apa kehadiran kembali Yondaime memunculkan tokoh penjahat baru dan memperrumit cerita ? Cuma kekhawatiran saya sirna setelah membaca chapter 440 yang kembali menegaskan kyuubi dikendalikan oleh Uchiha Madara. Namun yang agak membingungkan, &#8220;bagaimana&#8221; caranya yondaime kembali dan dimana chakra kyuubi yang separuh lagi.<span id="more-15"></span></p>
<p>Tidak enak rasanya melihat plot ala sinetron di adegan pertarungan. Pertarungan Sasuke VS Itachi adalah contoh yang sempurna. Genjutsu didalam genjutsu.</p>
<p>Reaksi Naruto juga aneh, dalamnya drama saat kematian Asuma atau Jiraiya tidak seimbang dengan reaksi pertemuan seorang anak dengan bapaknya yang terpisah jarak 16 tahun. Saya bingung sama mas Kishi.</p>
<p>Nah menurut salah satu teman, di chapter 440 kali ini yang terulang dialog Kakashi yang hampir mati dengan bapaknya, cuma kalau pada dialog Kakashi tidak ada yang baru dan tidak ada perubahan secara fisik. Pada Naruto segel yang sudah terbuka dipasang lagi oleh Yondaime.</p>
<p>Susah memang punya sifat melankolis, saya jadi kurang bisa menikmati cerita yang sebenarnya memang sangat fiksi. Berbenturan dengan logika ninja, itu istilah saya.<br />
Mungkin karena sifat melankolis itu juga menurut saya episode terbaik di anime naruto adalah shippuuden episode 32. Drama transfer nyawa, pesan nenek Chiyo buat Naruto dan Sakura dan pengakuan Gaara oleh teman sekampungnya.</p>
<p>Kalau Naruto tamat sampai disitu pun saya tidak terlalu peduli. Masalahnya sampai sekarang Naruto belum tamat. Dan sebelum Naruto tamat, saya tidak mau masuk ke dunia lain. Ya dunia lain, seperti dunia buat penggemar Tersanjung, Cinta Fitri, dunia buat Final Fantasy, Star Wars atau LOTR. Cukup sekali sepekan muncul keharusan untuk menunggu cerita yang tidak lebih dari 20 halaman.</p>
<p>Yang saya khawatirkan tiba-tiba Kishi punya ide untuk menceritakan separuh chakra kyuubi di segel pada Kushina sehingga Naruto tidak boleh menemui Kushina, sang ibu tercinta yang masih hidup.<br />
Ampun dah,&#8230;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kelilipan.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kelilipan.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kelilipan.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kelilipan.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kelilipan.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kelilipan.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kelilipan.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kelilipan.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kelilipan.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kelilipan.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kelilipan.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kelilipan.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kelilipan.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kelilipan.wordpress.com/15/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kelilipan.wordpress.com&amp;blog=6822633&amp;post=15&amp;subd=kelilipan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kelilipan.wordpress.com/2009/03/20/akhirnya-dia-ketemu-bapaknya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/51c87f133944d8058b5eedcb72a8808d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kelilipan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Susahnya nyari BIOS mobo DFI lawas</title>
		<link>http://kelilipan.wordpress.com/2009/03/16/susahnya-nyari-bios-mobo-dfi-lawas/</link>
		<comments>http://kelilipan.wordpress.com/2009/03/16/susahnya-nyari-bios-mobo-dfi-lawas/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Mar 2009 22:27:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kelilipan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Komputer]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kelilipan.wordpress.com/?p=10</guid>
		<description><![CDATA[Kemarin saya ditawarin teman untuk mbayarin mobo DFI NF4X Infinity nya. Cuma ada satu masalah, setelah instalasi selesai menggunakan CDROM, saya coba untuk meng-copy data dari DVD ROM merk A Open dan gagal. Lalu saya coba lagi dengan DVD RW Asus, gagal juga. Sudah ganti kabel PATA dll tapi masih gagal juga. Sebelum nyari firmware [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kelilipan.wordpress.com&amp;blog=6822633&amp;post=10&amp;subd=kelilipan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Kemarin saya ditawarin teman untuk mbayarin mobo DFI NF4X Infinity nya. Cuma ada satu masalah, setelah instalasi selesai menggunakan CDROM, saya coba untuk meng-copy data dari DVD ROM merk A Open dan gagal. Lalu saya coba lagi dengan DVD RW Asus, gagal juga. Sudah ganti kabel PATA dll tapi masih gagal juga. Sebelum nyari firmware buat DVD, mendingan coba download BIOS mobo ini dulu aja.</p>
<p>Ternyata DFI sombong, susah banget masuk untuk download BIOS mobo lawas ini. Adanya cuma buat yang baru-baru sampai saya ketemu link ini setelah googling</p>
<p>BIOS : http://img.lanparty.tw/Upload/BIOS/CM/CK8XDA19.zip</p>
<p>BIOS Flash Utility :</p>
<p>http://img.lanparty.tw/Upload/BIOS/CM/CK8XDA19.exe</p>
<p>yah itu kalau kita pake cara lama, update BIOS lewat DOS. Via windows nya bisa dengan software ini</p>
<p>http://www.dfi.com/content/Upload/BIOS/CM/Winflash192.zip</p>
<p>Dicoba dulu lah&#8230;</p>
<p>agak stress juga sama masalah ini. Setelah update bios masih gagal juga. Akhirnya saya simpulkan memang port IDE2 nya rusak, cuma bisa baca CD-ROM, si DVD agak berjejal bersanding dengan Seagate IDE 160gb.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kelilipan.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kelilipan.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kelilipan.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kelilipan.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kelilipan.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kelilipan.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kelilipan.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kelilipan.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kelilipan.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kelilipan.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kelilipan.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kelilipan.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kelilipan.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kelilipan.wordpress.com/10/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kelilipan.wordpress.com&amp;blog=6822633&amp;post=10&amp;subd=kelilipan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kelilipan.wordpress.com/2009/03/16/susahnya-nyari-bios-mobo-dfi-lawas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/51c87f133944d8058b5eedcb72a8808d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kelilipan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sepekan di Jakarta</title>
		<link>http://kelilipan.wordpress.com/2009/03/09/sepekan-di-jakarta/</link>
		<comments>http://kelilipan.wordpress.com/2009/03/09/sepekan-di-jakarta/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Mar 2009 08:04:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kelilipan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kelilipan.wordpress.com/?p=3</guid>
		<description><![CDATA[Sebenarnya nggak di Jakarta sih,&#8230;di pondok gede Bekasi. Cuma karena banyak keperluan ya harus sering-sering ke Jakarta. Rute-nya itu-itu juga,&#8230; soalnya saya memang belum pernah jalan-jalan sendirian di Jakarta, jadi ya seputaran Jatimakmur Pondok Gede Kampung Melayu Jatinegara Rawamangun Kebetulan juga waktunya juga beda-beda. Hari kerja, akhir pekan dan libur nasional. Berdasarkan pengalaman pribadi, satu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kelilipan.wordpress.com&amp;blog=6822633&amp;post=3&amp;subd=kelilipan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Sebenarnya nggak di Jakarta sih,&#8230;di pondok gede Bekasi.  Cuma karena banyak keperluan ya harus sering-sering ke Jakarta.</p>
<p style="text-align:justify;">Rute-nya itu-itu juga,&#8230; soalnya saya memang belum pernah jalan-jalan sendirian di Jakarta, jadi ya seputaran Jatimakmur Pondok Gede Kampung Melayu Jatinegara Rawamangun</p>
<p style="text-align:justify;">Kebetulan juga waktunya juga beda-beda. Hari kerja, akhir pekan dan libur nasional. Berdasarkan pengalaman pribadi, satu hal yang bisa saya simpulkan, kalau kita (baca:anda) bisa memilih, pilihlah pekerjaan terlebih dahulu, baru memilih tempat tinggal. Jika tidak, maka dalam pepatah melayunya &#8220;bulu kaki jatuh di busway&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Saya tidak anti kemajuan, cuma tolong dipikirkan lagi, jika kita memilih tinggal di Jakarta cuma karena alasan pekerjaan alias menyambung hidup, percayalah,&#8230; jika anda bisa membaca tulisan ini (buka internet dan baca blog), anda akan hidup jauh lebih nyaman di kota lain.</p>
<p style="text-align:justify;">Kalau alasannya mall, cafe, butik dan hotel bintang di langit, mungkin anda sedang terkena sindrom kelilipan&#8230;<span id="more-3"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Pernah kelilipan kan ? Mata kita akan berkedip secara refleks untuk membersihkan kotoran yang ada di mata. Biasanya badan kita bungkuk kan dengan harapan kotoran dimata akan jatuh karena gravitasi.</p>
<p style="text-align:justify;">Berkedip adalah refleks dari mata. Tidak ada yang salah dengan itu. Seberapa lama mata berkedip, tergantung kotoran apa yang masuk dan seberapa khawatir orang yang kelilipan.</p>
<p style="text-align:justify;">Saat kita melihat Mall, waterboom, cafe, hotel bintang lima dan lain-lain, secara refleks kita melihat tawaran fasilitas yang membuat kita memilih untuk tinggal menetap di kota besar. Fasilitas yang terlihat aduhai dan terasa semlohai.</p>
<p style="text-align:justify;">Lucunya, kita menikmati fase ini, menjadikannya alasan utama untuk tinggal di kota besar dan melupakan alasan dasar bahwa kita hidup sebagai manusia. Maksud saya manusia dalam titik terendahnya, makhluk hidup.</p>
<p style="text-align:justify;">Ada teori 2,2,2 dalam kebutuhan hidup manusia sebagai organisme. Maksudnya manusia akan mati jika tidak bernafas 2 menit, minum 2 minggu dan makan 2 bulan. Itu adalah titik maksimumnya. Saya membayangkan jika tidak makan, si Aming tidak akan bertahan selama itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Coba kita letakkan dalam konteks Jakarta, bagaimana kualitas udara Jakarta, lalu kualitas air dan makanannya. Jawaban kita mungkin variatif, yang jelas anda tidak puas kan ? Jika anda cukup beruntung tinggal di apartemen dengan air purifier menyala 24 jam dan pasokan air berkualitas serta makanan organik oleh chef proffesional, sekali lagi saya bilang, anda cukup beruntung. Apalagi kalau anda bisa menyelesaikan semua pekerjaan dalam rumah. Tapi cuma cukup beruntung, belum sangat beruntung. Apa anda tahan dikamar saja dan tidak keluar selama hidup anda di Jakarta ?</p>
<p style="text-align:justify;">Belum lagi kalau kita bicara dari sisi biaya, lingkungan dan kegairahan hidup. Coba saja tanyakan pada manusia yang paling berpengalaman hidup (manula) apa setelah bertahun-tahun menikmati dunia mereka memilih menghabiskan hidupnya di kota ? Masalahnya, setiap detik kita semakin tua dan kalau ujung-ujungnya sudah terlihat jelas dari sekarang, buat apa menunda lagi.</p>
<p style="text-align:justify;">Mungkin sebagian pembaca ada yang bertanya, ujung-ujungnya itu seperti apa sih  ?</p>
<p style="text-align:justify;">Secara garis besar, manusia yang sudah kaya pengalaman akan lebih mendekat pada Tuhan-nya.  Ini menjadi semacam tujuan akhir bagi kehidupan kita. Masalahnya, kita tidak tahu kapan kita mati. Jadi kalau toh nanti setelah tua kita lebih rajin beribadah, apa salahnya kita mulai dari sekarang. Ini curi start yang baik kok.</p>
<p style="text-align:justify;">Selain itu, kegairahan terbesar seorang manusia yang sudah kaya pengalaman adalah memiliki sebuah keluarga yang bahagia. Hari ini, kita adalah bagian dari sebuah keluarga. Sebahagia apa keluarga kita sekarang dan nanti sedikit banyak ditentukan oleh sumbangsih kita pada keluarga. Apa anda tipe yang menomorduakan keluarga dan menomorsatukan kerja selagi muda ? Mungkin anda harus berpikir ulang. Apapun yang anda kumpulkan di masa muda ini tidak akan berarti saat nantinya anda hanya berakhir di panti jompo, seberapa elit panti jompo itu, anda akan merasa sendirian. Dan seringnya tingkah laku kita terduplikasi oleh keluarga kita. Bentuk kasih sayang kita pada orangtua kita akan dinilai dari anak-anak atau ponakan-ponakan kita. Jadi jika ingin memanen kebahagiaan sebagai anggota keluarga, kita harus menanamnya. Sejak saat ini, sejak kita muda. Bekerja setahun penuh dengan cuti 12 hari bukan bibit yang baik buat anda yang tinggal jauh dari keluarga.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kelilipan.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kelilipan.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kelilipan.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kelilipan.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kelilipan.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kelilipan.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kelilipan.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kelilipan.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kelilipan.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kelilipan.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kelilipan.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kelilipan.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kelilipan.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kelilipan.wordpress.com/3/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kelilipan.wordpress.com&amp;blog=6822633&amp;post=3&amp;subd=kelilipan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kelilipan.wordpress.com/2009/03/09/sepekan-di-jakarta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/51c87f133944d8058b5eedcb72a8808d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kelilipan</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
